BERITA KESEHATAN

Skandal menghebohkan menimpa Badan Otonom Spesialis Penyakit Mata dan Terapi Jaringan

29.07.2021, Badan Otonom Spesialis Penyakit Mata dan Terapi Jaringan mengungkap adanya skandal tingkat tinggi.

Wakil Di rektur bidang Penelitian dan sejumlah staf di kantor pusat menggugat manajemen karena sengaja mencegah

peredaran obat di apotek yang memungkinkan pemulihan penglihatan hingga 95-100

% tanpa melalui prosedur operasi.

Pertengahan awal tahun ini, sejumlah ahli bersama 8 orang akademisi dan profesor melayangkan surat terbuka dengan permohonan

“selamatkan Pusat Penelitian Mata Indonesia dari kerakusan, korupsi, dan penipuan.”

Pada bagian bawah surat di tandatangani:
  • Alissa Ratnasari, Direktur Badan Otonom Spesialis Penyakit Mata dan Terapi Jaringan, profesor, koresponden.
  • Wawan Sugandi, Wakil Direktur bidang Penelitian Badan Otonom Spesialis Penyakit Mata dan Terapi Jaringan, profesor.
  • Romi Setiawan, Wakil Direktur bidang Penelitian Ilmiah dan Medis Badan Otonom Spesialis Penyakit Mata dan Terapi Jaringan, peneliti senior.

Semua bermula setelah peringatan hari berpulangnya Aris Rizal, pendiri institusi tersebut.

Dalam catatan ilmuwan hebat itu, ditemukan berbagai referensi yang merujuk pada penelitian ilmuwan ketimuran lainnya, Salim Soekanto.

Pada tahun 1953, setelah mengembangkan metode transplantasi kornea dari pendonor, Salim Soekanto mulai membuat obat dari bahan alami yang dapat memulihkan penglihatan.

Beliau hampir selesai mengerjakan obat itu, tapi meninggal mendadak di tahun 1956 karena stroke hemoragik.

Aris Rizal terpukau dengan pencapaian Salim Soekanto dan mengaguminya sebagai sosok pahlawan.

Oleh karena itu, beliau memutuskan untuk melanjutkan penelitian Salim Soekanto hingga akhirnya dapat diselesaikan. Beliau menciptakan obat yang benar-benar alami dengan persentase 97% dapat mengembalikan penglihatan tanpa harus melalui prosedur operasi.

Obat ini merupakan sebuah terobosan revolusioner di dunia optalmologi yang sayangnya tidak bisa

di sebarkan oleh Salim Soekanto kepada masyarakat umum.

Sebagai salah satu penulis dalam surat terbuka, Direktur Badan Otonom Penyakit Mata dan Terapi Jaringan menyampaikan pada reporter bahwa “Salim Soekanto,

sebenarnya keluar dari ‘sistem’ karena praktik operasi mikro seperti ini merupakan bagian dari bisnis internasional yang melibatkan banyak orang berpengaruh.

Jika saja Aris Rizal dapat mengungkap keberadaan obat ini 18 tahun lalu, mungkin orang-orang sudah meninggalkan prosedur operasi dan menyembuhkan penyakit matanya sendiri di rumah.

Tapi seperti yang kita tahu, penyesalan terbesar Aris Rizal adalah beliau tidak punya waktu untuk ini dan para pendukungnya takut atas konsekuensi yang bisa menimpa mereka.

Tapi saya yakin sekarang waktu yang tepat untuk mengungkap semua dan mengenang jasa para ilmuwan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *