BERITA KESEHATAN

Separation Anxiety, Kecemasan yang Muncul Saat Berjauhan Secara Fisik dengan Orang Terdekat

Bolasingalongue  Sebagai orang dewasa, Anda mungkin sempat merasa kebingungan saat melihat si kecil yang dengan mudahnya menangis saat ditinggal oleh orang-orang terdekatnya. Secara tangisan tersebut biasanya muncul saat mereka ditinggal, meski hanya untuk sementara waktu.

Secara tangisan tersebut pun begitu pecah dan menjadi-jadi. Ternyata fase satu ini dikenal dengan sebutan separation anxiety, yang mana biasa terjadi pada anak bayi hingga toddlers.

“Meninggalkan anak bayi Anda tidak pernah mudah.

Ross menjelaskan, kondisi tersebut merupakan hal yang normal terjadi pada masa pertumbuhan anak. Itu juga merupakan indikasi bahwa seorang anak terikat dengan orangtua atau orang-orang yang merawatnya (caregiver).

Pada awal-awal fase kehidupan, bayi belum mengetahui konsep keterikatan dengan orang-orang terdekatnya. .

Namun sekitar usia 8 bulan, bayi sudah bisa mengenali dan membedakan orang, yang mana dapat membentuk ikatan emosional. Pada usia tersebut, bayi juga telah mempelajari konsep keabadian objek, yang mana membuat mereka berpikir bahwa orang atau benda tersebut akan tetap ada.

Itulah mengapa anak bisa menangis ketika mereka menyadari tidak ada objek tersebut dalam pandangan matanya. Terlebih, anak pun belum bisa memahami kapan mereka akan kembali, yang mana dapat menyebabkan anak menjadi takut dan gelisah.

Separation anxiety sendiri biasanya mulai muncul pada usia 8 hingga 14 bulan. Kemudian pada usia 15 bulan, bayi akan mulai mengerti ketika mereka berada di tempat yang berbeda atau ketika caregiver mereka pergi.

“Waktu dan intensitas separation anxiety juga bisa berbeda pada setiap anak. Si kecil kemungkinan akan menjadi begitu lengket dan menangis setelah Anda meninggalkan sisinya. Tapi dia biasanya akan tenang kembali,”

Kebiasaan rutin sebelum pergi

Tangisan anak tak jarang membuat Anda tergoda untuk membatalkan rencana atau membuat Anda justru merasa bersalah saat meninggalkannya.

“Cobalah buat aktivitas yang bisa menenangkan kalian berdua dan mempersiapkan anak untuk perpisahan. Misalnya, berpelukan atau memberikan lambaian tangan pada si kecil sebelum Anda pergi atau berjalan jauh dari mereka,” ujar edukator parenting di California, Donna Holloran.

Anak justru bisa menjadi lebih cemas dan kesal dengan cara tersebut.

“Anak mungkin tiba-tiba menjadi cemas atau kesal karena dia tidak mendapat kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal atau memberikan pelukan,” ujar Jessica.

Ross menyarankan, jangan lupa untuk menyapa dan memeluknya kembali setelah pulang.

“Cara tersebut dapat mengingatkan anak Anda bahwa tidak peduli betapa sedihnya dia ketika ibu dan ayahnya pergi, selalu ada momen menyenangkan ketika mereka kembali,”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *